Header Ads Widget

Ticker

6/recent/ticker-posts

Toxic Word Netizen Indonesia ditengah Pembelaan dan Pembullyan

Konten [Tampil]
Biasanya saya banyak diam tentang fenomena yang sedang viral di masyarakat. Bukan tidak peduli, tetapi saya memilih memperhatikan dari jauh bahwa sebenarnya untuk beberapa permasalahan ada hal yang kita harus menahan diri untuk tidak turut berkomentar dan menulis segala bentuk toxic word yang menyakitkan. Secara banyaknya netizen yang berkomentar, mereka datang bukanlah dari kalangan orang dekat dengan orang yang tengah viral. Parahnya mereka yang berkomentar bukan siapa-siapa dan tak ada hubungannya sama sekali.
Sumber: Google
Tulisan ini saya tulis berlandaskan pada kegelisahan saya, menjadi bagian dari netizen Indonesia yang mulai merasa terancam sendiri setiap menyaksikan hate komen, toxic komen dilini media sosial. Dan tidak bisa dipungkiri saya yakin, teman-teman juga bisa terjerumus pada hal itu. Saya pun pernah seperti itu.
Baca juga, MayDay! Keresahan Pekerja Kontrak
Well, mari kita mulai bicara hal ini yang mana mungkin kegelisahan ini juga dirasakan oleh kamu? Saya ingin membicarkan tentang kasus yang tengah viral terkait dengan Dek Audrey. Gadis SMP berusia 14 tahun yang mampu menyedot perhatian masyarakat Indonesia beberapa waktu ini. Sampai-sampai orang no 1 di Indonesiapun turut berkomentar. Sementara banyak hal besar lain harus ia selesaikan semisal kasus Novel Baswedan yang masih belum jelas.  

Rangkaian boomingnya kasus ini dimulai dari informasi trending twitter dengan tagar #justiceforaudrey yang dicuitkan oleh salah satu akun Twitter di mana berita itu diambil dari website Berkat TV. Lalu dilanjutkan dengan petisi online di change.id yang meminta banyak tanda tangan agar pelaku pembully Audrey dihukum semestinya, meski mereka juga masih anak-anak dan supaya tak ada kata damai pada kasus ini. Seolah bersambut, kanal-kanal online ramai-ramai meniupkan isu itu ke publik dengan judul bombastis, meski polisi belum mengeluarkan kronologi resmi sehingga berita ini terkesan prematur.
Sumber Gambar: Google.com
Ditengah ramainya pemberitaan terkait Audrey para artis ramai-ramai berkomentar, para influencer berebut mencari panggung dan menampilkan keberadaan mereka dan para youtuber berlomba membuat content dari berita itu. Selanjutnya muncul banyak akun fake instagram yang memberitakan tentang #justiceforaudrey, malahan salah satu akun terduga pelaku di hack dan diisi dengan konten foto terduga pelaku dengan caption menyudutkan. Belum lagi kalau kamu baca kolom komennya, saya saja dibuat sakit hati meski bukan siapa-siapa dikasus itu. Bukankah berarti mereka juga korban perundungan dan pembullyan netizen?
Baca juga, Sociey Riweuh (Opini)
Ga berselang lama layaknya bumerang waktu, setelah Audrey dielu-elukan dan dibela oleh netizen. Lalu ada netizen yang kemudian mencari tahu Audrey dari postingan FB nya. Ada 2 akun miliknya yakni Audrey (sudah diaktif) dan Audrey Zildvanka. Selepas tahu postingan FB Audrey, simpati netizen beralih menjadi hujatan lantaran postingan FB Audrey tak sepolos anak seusianya. Di akun Audrey Zildvanka ia banyak memposting berita-berita yang menyudutkan Jokowi. Ditambah bukti visum yang hasilnya negatif, dan penyataan terduga pelaku yang bilang tidak pernah ada pengeroyokan dan pencolokan alat kelamin. Takdirpun kemudian membuat Audrey dihujat oleh netizen yang Maha benar, dihujat oleh pendukung Jokowi dan kini tagar #audreyjugabersalah ramai menggaung di media sosial. Mereka yang tadinya merasa ‘kasihan’ menyesal telah membela anak itu. Bahkan beberapa mengatakan menyesal telah turut menandatangi petisi online. Yang ingin saya tanyakan sehatkah kalian???

Pelaku yang melakukan bullying dan sempat menyiksa Audrey mungkin memang bersalah. Tetapi Audrey juga mungkin belum tentu benar. Sebagian besar netizen negara berflower ini merasa terkena prank ‘April Mop’? kamu juga? di mana kasus ini sama seperti kasus dulu-dulu yang pernah jadi trending. Seperti kasus tulisan Dek Afi Nihaya Faradisa yang awalnya dielu-elukan karena tulisan bagus tentang toleransi di fbnya, padahal itu hanyalah tulisan copy paste milik orang lain. Awal mula disanjung, sampai-sampai telah bertemu Presiden dan Menteri. Akhir-akhirnya malah dibully.
Sumber gambar: Google.com
Tak cuma kasus itu, kita juga masih mengingat kasus Ratna Sarumpaet yang foto-foto bengkaknya tersebar di medsos kemudian itu bukan karena pemukulan melainkan akibat proses operasi plastik. Sadar gak sih ditengah kita ikut berkomentar, menshare apa yang kita tahu lewat media yang dimiliki, kita sendiri tengah ada dalam proses membully? Gak bisakah kita sabar menahan jari-jari ini untuk gak cepat menyimpulkan orang lain bersalah dari satu sudut pandang tapi dari dua sudut pandang sekaligus? Saya memaklumi orang Indonesia terketuk hatinya untuk menyebarkan positive vibe atas kasus pembullyan ini, agar tak perlu ada lagi pembullyan kelak. Tapii yaahh please dehhh!
 
Sumber gambar: Google.com
Saya menulis ini bukan berarti saya membela apa yang dilakukan oleh pelaku sehingga berani terhadap 1 gadis saja. Saya hanya ingin agar kita tidak prematur menjudge orang lain, membuat perbincangan dan penilaian terhadap orang lain. Apa yang kita nilai terhadap orang lain akan berkumpul menjadi bahan fitnah bagi orang yang kita bicarakan. Dan apa yang kita turut komentari akan memancing orang untuk turut berkomentar yang notabennya itu gak ada urusannya sama sekali dengan yang komen.

Selain itu, rasa prihatin terbesar saya bagi media online di Indonesia. Entah apa yang mereka kejar, berita valid atau yang penting viewers? Mereka hanya membuat berita yang kebanyakan berasal dari cuitan seseorang yang sedang trending yang pada dasarnya orang itu bukan keluarga Audrey. Kini kredibilitas menjadi nomor sekian yang penting adalah laku dikalangan pembaca.

Dari kejadian di atas, terkadang saya berpikir ada gunanya juga gak begitu eksis di sosial media. Saya jadi gak berpikiran untuk menjugde orang lain. Pun kalau pada akhirnya saya menjugde dia, cukuplah penilaian itu saya simpan dalam hati dan menjadi bahan evaluasi saya agar gak seperti itu. Jadi, semoga kita bisa lebih baik memandang tiap masalah dari dua kacamata. Dan untuk media saya berharap agar kredibilitas narasumber dari media sosial patut diperhatikan. Jangan sampai media kita hancur lantaran penyebaran hoaks yang mereka lakukan sendiri.

Sumber Terkait: 

Posting Komentar

0 Komentar

Cari artikel di blog ini