Header Ads Widget

Ticker

6/recent/ticker-posts

Review film I Met a Girl berkisah tentang Pengidap Skizofrenia

Konten [Tampil]

I Met a Girl adalah sebuah film yang diproduksi di Australia. Saya pikir awalnya dari menit pertama hingga terakhir film ini akan hadir tanpa makna, tapi justru sebaliknya.

Sebagai orang yang tidak terlalu sering menonton film, dari rating 1-10 bolehlah saya berikan film ini rating 7, sebagai bentuk apresiasi dari kepiawaian penulis cerita dan sutradara menggambar film bergenre romantis komedi ini. 

Sumber gambar: target scene7

Tidak terlalu banyak pemeran yang dibutuhkan di film ini, yang paling mencolok di antaranya hanyalah empat orang, yaitu Devon sebagai tokoh utama, Lucy sebagai wanita yang menemukan Devon saat dirinya ingin bunuh diri, Nick sebagai kakak dari Devon dan istri Nick. 

Baca juga: "Toxic Positivity" Kata-kata penyemangat yang menyesatkan


Ketika kamu menonton film ini, mungkin kamu akan pusing bila terlalu serius mengikuti alur filmnya. 


Kenapa? karena di film ini kamu akan selalu dibawa ke dalam alur cerita maju dan mundur, serta ga bisa membedakan apakah ini adegan yang real atau hanya imajinasi. 


Maklum pemeran utama film ini adalah Devon, seseorang yang mengalami penyakit skizofrenia paranoid yang membuatnya selalu merasa insecure, takut, dan terus berhalusinasi. 


Padahal bila kita melihat pada skills Devon, dia itu sangat terampil terutama dalam bidang musik. 


Dia adalah orang yang cerdas, ramah, bawel, periang dan pintar dalam membuat lagu secara dadakan {etdah kaya tahu aja dadakan~} namun kepintarannya itu seolah bias dengan penyakit skizofrenia yang Devon idap sejak kecil. 


Dia bisa mengalami mood yang tiba-tiba berubah. Misalkan pada suatu adegan dimana kakaknya Nick sedang melangsungkan resepsi pernikahannya, Devon  beserta bandnya menyanyikan lagu di pesta pernikahan tersebut. 


Awalnya Devon dengan baik menyanyikan lagu yang ia ciptakan sendiri dan menghibur penonton. 


Hingga akhirnya Devon merasa moodnya buruk secara tiba-tiba dan merasa terancam. 


Ia pun kemudian menyayat pergelangan tangannya dan menghancurkan pesta pernikahan Nick karena sikapnya yang tidak bisa terkendali secara tiba-tiba tersebut. 


Atas kejadian itu, Devon pun dilarikan ke rumah sakit dan mendapat perawatan. Dari sanalah, orang-orang di sekitar Devon menjauh termasuk rekan satu bandnya yang menganggap bahwa Devon adalah orang gila. 


Memang, bila melihat dari artikel Klikdokter diketahui bahwa kadang pengidap gangguan mental skizofrenia di masyarakat sering dicap sebagai orang gila. Padahal sebenarnya tidak.


Di luar negeri para pengidap penyakit ini dibawa ke rumah singgah seperti rumah sakit jiwa, lalu dia mendapat perawatan dan bimbingan/konseling dari seorang psikolog, yang membantunya untuk meyakinkan mereka bahwa halusinasi itu tidak benar. 


Masalahnya jika seseorang skizofrenia dianggap orang gila, ia tentu akan diasingkan oleh lingkungan bahkan akan membuat penyakitnya semakin buruk. 


Sumber: rogermoore

Beruntungnya Devon saat itu ia memiliki seorang kakak pria yang baik bernama Nick. Nick yang selalu mengurusnya, menemaninya, menyiapkan sarapannya bahkan memegang tangan Devon saat dirinya mandi. 


Lantas kenapa film ini dinamakan I Met A Girl? Karena semua hal yang Devon alami itu biasanya adalah halusinasi, hingga pada akhirnya saat Devon bertemu dengan Lucy, wanita pujaannya itu bukanlah sebuah halusinasi. 


Perjalanan halusinasi dan real inilah yang menjadi titik berat difilm ini, dikisahkan bagaimana Devon berjuang untuk mencoba menemukan kembali kekasih impiannya tersebut. 

Baca juga: Cara mengelola stres di pekerjaan dengan baik


Yang mungkin oleh penonton awalnya dianggap hanya halusinasi. Seperti apa kira-kira kelanjutan filmnya? Kamu bisa coba temukan sendiri dan nikmati keseruan dari film I Met A Girl ini. 


Selamat menonton ya, dan kalau kamu merasa sependapat dengan saya terkait film ini kabari yaa! Cheers~

Posting Komentar

0 Komentar

Cari artikel di blog ini